Mengapa Iblis Lebih Mencintai Bid’ah Daripada Maksiat?

chatgpt image sep 16, 2026, 09 37 25 pm

Tanyaislamyuk – Maksiat biasanya dilakukan ketika seseorang tahu bahwa dirinya sedang melanggar perintah Allah. Ia mungkin tergoda, kalah oleh hawa nafsu, atau sengaja melakukan dosa. Namun di dalam dirinya masih ada kesadaran bahwa perbuatannya salah.

Karena itu, ketika datang nasihat, masih ada kemungkinan ia berkata, “Saya salah. Saya harus berhenti dan bertaubat.”

Bid’ah dalam urusan agama memiliki persoalan yang berbeda. Seseorang bisa melakukan suatu amalan yang tidak memiliki landasan yang benar, tetapi justru meyakini bahwa dirinya sedang mendekatkan diri kepada Allah.

Di sinilah bahayanya.

Kesalahan yang disadari sebagai kesalahan lebih mudah untuk ditinggalkan daripada kesalahan yang diyakini sebagai kebenaran.

Iblis tidak selalu menggoda manusia dengan maksiat

Godaan tidak selalu berbentuk ajakan untuk mabuk, berzina, mencuri, atau melakukan dosa yang jelas.

Terkadang godaan justru datang melalui sesuatu yang terlihat baik: ibadah, kesalehan, dan semangat beragama.

Masalahnya bukan pada keinginan untuk beribadah. Masalahnya muncul ketika manusia mulai menentukan sendiri bentuk ibadah yang kemudian dianggap sebagai bagian dari agama, padahal tidak memiliki dasar yang kuat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu, dalam beragama kita tidak cukup hanya bertanya:

“Apakah niat saya baik?”

Tetapi juga harus bertanya:

“Apakah cara yang saya lakukan memang diajarkan?”

Niat yang baik tidak otomatis membuat setiap cara menjadi benar.

Yang membuat bid’ah sulit ditinggalkan

Bayangkan dua orang.

Orang pertama melakukan maksiat dan berkata:

“Saya tahu ini dosa, tetapi saya masih belum mampu meninggalkannya.”

Orang kedua melakukan suatu amalan yang tidak memiliki dasar dalam agama dan berkata:

“Saya melakukan ini karena ingin mendapatkan pahala.”

Ketika orang pertama mendapatkan nasihat, ia mungkin menyadari kesalahannya.

Tetapi orang kedua bisa saja menolak nasihat tersebut karena merasa bahwa dirinya justru sedang melakukan kebaikan.

Inilah sisi yang sering menjadi perhatian para ulama ketika menjelaskan bahaya bid’ah.

Bukan sekadar karena adanya sebuah amalan baru, tetapi karena keyakinan bahwa amalan tersebut merupakan bagian dari agama dapat membuat seseorang tidak merasa perlu melakukan koreksi.

Namun, jangan mudah menuduh orang lain

Pembahasan bid’ah juga tidak boleh berubah menjadi senjata untuk menghina atau menghakimi sesama Muslim.

Tidak semua sesuatu yang baru otomatis merupakan bid’ah yang tercela. Ada perbedaan antara ibadah yang ditetapkan tata caranya dalam agama dengan sarana baru untuk menjalankan ibadah.

Menggunakan mikrofon untuk azan, mencetak Al-Qur’an, atau menggunakan teknologi untuk belajar agama bukan berarti menciptakan ibadah baru.

Karena itu, seseorang harus memahami dalil dan penjelasan ulama sebelum memberikan label bid’ah kepada sebuah amalan.

Mengikuti sunnah membutuhkan ilmu, bukan sekadar keberanian menuduh.

Ironi yang lebih besar

Ada hal yang juga perlu kita waspadai.

Jangan sampai seseorang begitu sibuk memerangi bid’ah sampai lupa memerangi kesombongan dalam dirinya sendiri.

Jangan sampai karena merasa paling mengikuti sunnah, ia kemudian merendahkan orang lain, mencaci, memutus silaturahmi, dan merasa dirinya lebih suci.

Sebab meninggalkan bid’ah tidak berarti mendapatkan izin untuk melakukan maksiat lainnya.

Sunnah harus melahirkan ketundukan kepada Allah, bukan kesombongan kepada manusia.

Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:

“Apakah saya merasa sedang melakukan kebaikan?”

Tetapi:

“Apakah kebaikan yang saya lakukan benar-benar memiliki dasar dalam agama?”

Sebab maksiat yang disadari sebagai dosa masih membuka pintu taubat. Tetapi kesalahan yang diyakini sebagai ibadah bisa membuat seseorang terus mempertahankannya.

Dan mungkin itulah mengapa para ulama memberikan peringatan keras tentang bahaya bid’ah: bukan karena semua pelakunya lebih buruk daripada pelaku maksiat, tetapi karena orang yang merasa dirinya benar sering kali tidak merasa perlu mencari kesalahannya sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.