Tanyaislamyuk – Sebuah pemikiran yang cukup menohok beredar di media sosial dan langsung mengundang perdebatan.
“Ada orang yang rela menjual harta demi bisa berangkat haji atau umrah. Tapi setelah sampai di Mekkah, justru berdoa agar diberi harta dan kehidupan yang lebih baik. Bukankah itu menarik untuk direnungkan?”
Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi menyimpan pertanyaan yang cukup dalam.
Banyak orang rela menabung bertahun-tahun, menjual kendaraan, tanah, perhiasan, bahkan aset yang dimiliki agar bisa memenuhi panggilan ke Tanah Suci.
Mereka rela mengorbankan sesuatu yang berharga demi bisa beribadah di tempat yang dianggap mulia.
Namun sesampainya di Mekkah, salah satu doa yang dipanjatkan tentu saja adalah meminta rezeki, kesehatan, kemudahan hidup, dan kecukupan harta.
Lantas, apakah itu sebuah ironi?
Di satu sisi, manusia mengorbankan hartanya untuk bisa beribadah.
Di sisi lain, manusia juga meminta kepada Allah agar hartanya kembali, bahkan berharap mendapatkan rezeki yang lebih banyak.
Tetapi mungkin persoalannya bukan sesederhana itu.
Harta bukanlah tujuan akhir dari ibadah. Harta hanyalah salah satu sarana dalam menjalani kehidupan.
Menjual sebagian harta demi berangkat ke Tanah Suci tidak otomatis berarti seseorang sedang menyia-nyiakan hartanya. Begitu pula berdoa meminta rezeki setelah berada di Mekkah bukan berarti ibadahnya hanya berorientasi pada dunia.
Justru manusia memang dianjurkan untuk meminta kebaikan dunia sekaligus akhirat.
Yang perlu dipertanyakan adalah ketika seseorang rela melakukan apa pun demi terlihat sudah haji atau umrah, tetapi setelah pulang tidak ada perubahan dalam sikap, akhlak, maupun cara memperlakukan orang lain.
Sebab, yang seharusnya dibawa pulang dari Tanah Suci bukan hanya oleh-oleh, foto, dan cerita perjalanan, tetapi juga perubahan diri.
Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:
“Berapa banyak harta yang kamu keluarkan untuk pergi ke Tanah Suci?”
Melainkan:
“Setelah kembali dari Tanah Suci, apakah hidupmu menjadi lebih dekat kepada Allah?”
Karena haji dan umrah bukan sekadar perjalanan dari rumah menuju Mekkah.
Ia adalah perjalanan yang seharusnya membuat seseorang pulang sebagai pribadi yang lebih baik.











