Tanyaislamyuk – Tiga fakta yang susah diabaikan begitu saja ketika dibaca bersamaan!
Di hari yang sama, Jumat 7 Agustus 2026, Presiden Prabowo Subianto melontarkan dua hal yang langsung memantik perdebatan.
Di panggung peluncuran buku Bahlil, ia berkata lantang bahwa kecerdasan bukan dari sekolah dan kampus Bahlil pun sudah tidak bisa dicari di Google. Di Istana, melalui Seskab Teddy Indra Wijaya, ia menginstruksikan pembaruan buku pelajaran dari SD hingga SMA karena tulisannya terlalu kecil, bahannya mudah rusak, dan kualitasnya tertinggal dari negara tetangga.
Dua pernyataan dalam satu hari dari satu orang yang sama. Sekolah bukan penentu kecerdasan, tapi buku sekolah harus diperbaiki.
Kontradiksi yang menarik. Tapi belum selesai sampai di situ.
Karena ada satu fakta lain yang luput dari perhatian publik. Prabowo diketahui memiliki PT Kertas Nusantara, pabrik kertas di Berau, Kalimantan Timur, yang pernah mengalami masa suri panjang sebelum akhirnya beroperasi kembali di tahun 2025.
Ketika pemerintah berencana memperbarui jutaan buku pelajaran dari SD hingga SMA di seluruh Indonesia, yang artinya membutuhkan kertas dalam jumlah yang tidak kecil, dan Presiden yang menginstruksikan pembaruan itu kebetulan memiliki perusahaan kertas, publik berhak bertanya soal potensi konflik kepentingan.
Apakah proyek pembaruan buku pelajaran nasional akan melalui tender terbuka yang transparan? Atau ada jalur yang lebih pendek?
Prabowo peduli pada kualitas buku anak-anak Indonesia. Itu patut diapresiasi. Tapi kepedulian itu akan jauh lebih meyakinkan jika disertai transparansi penuh soal siapa yang akan mencetak jutaan buku baru itu dan bagaimana prosesnya.
Kecerdasan memang bukan dari sekolah. Tapi buku yang baik tetap dibutuhkan anak-anak yang bersekolah.













