Tanya Islam Yuk

Situs yang menyajikan tulisan dan seputar islam dan realitas umat di tengah zaman yang terus berubah

,

Wanita Ini Curhat Tradisi Pengajian Dianggap Merusak Mental dan Finansial

350m34sr84htcug

Tanyaislamyuk – Sebuah curhatan dari seorang wanita di media sosial mendadak viral setelah dirinya mengeluhkan tradisi pengajian dan rangkaian acara keluarga yang menurutnya justru menjadi beban berat, baik secara mental maupun finansial.

Dalam unggahannya, wanita tersebut mengaku stres melihat budaya di lingkungannya yang dianggap terlalu memaksakan keadaan. Ia mengatakan bahwa setiap ada acara tertentu, keluarga diwajibkan menggelar pengajian besar-besaran selama berhari-hari, lengkap dengan konsumsi, amplop untuk tamu tertentu, hingga berbagai kebutuhan lain yang menguras tabungan.

“Kadang aku heran, ini niat ibadah atau ajang gengsi sosial? Orang yang ekonominya pas-pasan malah dipaksa ngadain acara besar cuma karena takut omongan tetangga,” tulisnya.

Ia menjelaskan bahwa di daerah tempat tinggalnya, keluarga yang mengadakan hajatan atau acara tertentu harus menyiapkan makanan untuk warga sekitar hingga tujuh hari berturut-turut. Tidak hanya itu, masih ada biaya tambahan seperti konsumsi panitia, uang amplop, sewa perlengkapan, hingga kebutuhan dapur yang terus membengkak.

Menurut pengakuannya, total biaya yang harus disiapkan bahkan bisa mencapai minimal Rp30 juta, angka yang bagi sebagian masyarakat tentu sangat memberatkan.

Curhatan itu langsung memicu perdebatan panjang di media sosial. Banyak netizen yang merasa relate karena pernah mengalami tekanan serupa. Mereka mengaku sering kali rela berutang demi menjaga nama baik keluarga di mata lingkungan sekitar.

“Yang bikin capek itu bukan acaranya, tapi tekanan sosialnya. Kalau gak ngadain nanti dibilang pelit, gak menghargai tradisi, bahkan dianggap gak hormat sama warga,” komentar salah satu netizen.

Ada juga yang menilai bahwa tradisi sebenarnya baik, namun praktik di lapangan sering berubah menjadi ajang pamer kemampuan ekonomi. Akibatnya, esensi kebersamaan dan ibadah perlahan bergeser menjadi beban sosial yang menakutkan.

“Tradisi itu bagus kalau sesuai kemampuan. Tapi kalau sampai bikin orang stres, nangis, bahkan utang sana-sini, apa masih layak dipertahankan dengan cara seperti itu?” tulis netizen lainnya.

Meski begitu, sebagian masyarakat tetap membela tradisi pengajian dan acara kampung tersebut karena dianggap sebagai bentuk gotong royong serta cara menjaga hubungan sosial antarwarga. Mereka menilai masalah utamanya bukan tradisinya, melainkan tuntutan gengsi dan kebiasaan saling membandingkan.

Fenomena ini kembali membuka diskusi soal budaya sosial di masyarakat yang terkadang sulit dipisahkan dari tekanan ekonomi. Tidak sedikit orang yang sebenarnya keberatan, namun memilih diam karena takut dianggap melawan adat atau tidak menghargai lingkungan sekitar.

Di tengah kondisi ekonomi yang semakin sulit, banyak masyarakat kini mulai mempertanyakan kembali: apakah semua tradisi harus dijalankan secara besar-besaran, atau sebenarnya bisa disederhanakan tanpa menghilangkan makna utamanya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

About the Author

Hadir sebagai sumber inspirasi dan edukasi seputar ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Menyajikan konten ringan hingga mendalam tentang ibadah, akhlak, sejarah, serta fenomena kehidupan umat Muslim masa kini. Dengan pendekatan yang relevan dan mudah dipahami, website ini bertujuan menjadi ruang belajar, refleksi, dan penguatan iman bagi setiap pengunjung

Search the Archives

Akses terhadap liputan jurnalistik investigatif dan laporan-laporan terkini selama bertahun-tahun.