Tanyaislamyuk – Kalimat itu seperti menyingkap satu hal yang sering disembunyikan manusia dari dirinya sendiri, yaitu kontradiksi. Di mulut, seseorang bisa meremehkan sesuatu. Tapi di dalam hati, ia diam-diam menginginkannya.
Kekayaan disebut beban karena akan dihisab lebih lama, tetapi pada saat yang sama tetap dikejar, diminta, dan diusahakan. Dari situ terlihat, kadang yang terdengar seperti prinsip, sebenarnya hanya cara halus untuk menghibur kekurangan.
Ini bukan soal kaya atau miskin, tapi soal kejujuran melihat isi hati sendiri. Manusia sering pandai membuat alasan moral terhadap sesuatu yang belum ia miliki, sambil tetap menginginkannya diam-diam.
Yang jadi persoalan bukan keinginan untuk hidup lebih baik, itu wajar. Masalahnya ketika lidah dan hati berjalan ke arah yang berbeda. Dari situ muncul kemunafikan kecil yang sering tidak terasa.
Mungkin maknanya bukan menyindir orang miskin, tapi mengajak melihat bahwa manusia perlu jujur pada hasrat dan ucapannya. Jika memang kekayaan dianggap amanah yang berat, maka pahami dengan sungguh.
Jika diinginkan sebagai jalan kebaikan, akui juga dengan jujur. Karena hidup jadi lebih jernih ketika seseorang berhenti menipu dirinya sendiri. Dan kadang kebijaksanaan dimulai justru dari berani melihat pertentangan kecil dalam hati yang selama ini disembunyikan.













