Tanyaislamyuk – “Suami adalah pemimpin dalam rumah tangga.”
Kalimat ini sering dikutip ketika membahas hak seorang suami. Namun, tidak sedikit yang lupa bahwa menjadi pemimpin bukan hanya soal dihormati, ditaati, dan didengar. Menjadi pemimpin juga berarti siap menerima masukan, kritik, bahkan nasihat dari orang yang dipimpinnya.
Ironisnya, ada suami yang menuntut penghormatan layaknya seorang pemimpin, tetapi langsung tersinggung ketika istrinya mengingatkan kesalahan yang ia lakukan.
Saat istri diam, ia dianggap kurang peduli.
Saat istri berbicara, ia dianggap melawan.
Saat istri menasihati, ia dituduh tidak menghormati suami.
Padahal dalam kehidupan nyata, seorang pemimpin yang baik tidak alergi terhadap kritik. Seorang direktur mendengarkan bawahannya. Seorang presiden memiliki penasihat. Seorang ulama pun menerima koreksi jika keliru. Lalu mengapa ada suami yang merasa harga dirinya runtuh hanya karena dinasihati oleh istrinya sendiri?
Menghormati suami bukan berarti membiarkan suami terus berada dalam kesalahan. Sebaliknya, salah satu bentuk cinta adalah berani mengingatkan ketika pasangan mulai keluar dari jalan yang benar.
Dalam banyak kisah sejarah, para istri justru menjadi sumber nasihat yang berharga bagi suaminya. Mereka menjadi pendamping yang membantu melihat hal-hal yang mungkin tidak disadari oleh sang suami. Karena itulah pernikahan disebut sebagai kemitraan, bukan kerajaan yang hanya memberi ruang bagi satu suara.
Masalahnya bukan pada nasihat yang diberikan, melainkan pada ego yang terlalu besar untuk menerimanya.
Jika seorang suami ingin dihormati sebagai pemimpin, maka ia juga harus memiliki salah satu sifat terpenting seorang pemimpin: kerendahan hati untuk mendengarkan.
Sebab kepemimpinan sejati tidak terlihat dari seberapa keras seseorang menuntut penghormatan, melainkan dari seberapa dewasa ia menerima masukan.
Karena pada akhirnya, rumah tangga yang sehat bukanlah rumah tangga yang hanya memiliki satu orang yang selalu benar. Melainkan rumah tangga yang diisi dua orang yang sama-sama mau belajar, saling mengingatkan, dan sama-sama bersedia mengakui kesalahan ketika memang salah.
Menginginkan penghormatan itu wajar.
Tetapi menolak nasihat hanya karena datang dari istri, bukanlah tanda kewibawaan.
Itu justru tanda bahwa ego sedang mengalahkan kebijaksanaan.













