Tanyaislamyuk – Sebuah bangunan baru berdiri megah di salah satu desa di Lamongan. Catnya masih terlihat segar, plangnya mencolok, dan namanya penuh semangat: Koperasi Desa Merah Putih.
Namun ada satu hal yang langsung membuat warga geleng-geleng kepala.
Bangunan itu bukan menghadap jalan utama.
Bukan juga menghadap permukiman warga.
Melainkan… tepat menghadap area kuburan.
Pemandangan itu pun cepat menyita perhatian masyarakat. Banyak yang heran, sebagian tertawa getir, sebagian lagi mulai mempertanyakan: ini benar-benar sudah direncanakan matang atau sekadar asal jadi?
Di tengah semangat pemerintah mendorong kebangkitan ekonomi desa lewat koperasi, publik berharap bangunan seperti ini menjadi simbol harapan dan perputaran ekonomi rakyat. Tempat warga datang membawa mimpi usaha, mencari solusi modal, hingga membangun kemandirian desa.
Tapi ketika posisi bangunannya justru berhadapan langsung dengan makam, muncul kesan yang sulit diabaikan.
Warganet bahkan mulai melontarkan sindiran pedas.
“Usahanya belum jalan, auranya sudah sendu.”
“Yang datang bukan pembeli, malah bikin merinding.”
“Ini koperasi atau pos jaga alam lain?”
Meski terdengar seperti candaan, kritik semacam ini sebenarnya menyimpan pesan penting: pembangunan fasilitas publik tidak cukup hanya selesai dibangun. Ia juga harus dipikirkan dari sisi kenyamanan, psikologi masyarakat, akses, hingga nilai simboliknya.
Sebab bangunan publik bukan sekadar tembok dan semen.
Ia membawa citra.
Membawa semangat.
Dan membawa kepercayaan warga.
Tidak sedikit masyarakat desa yang masih memegang kuat unsur rasa dan simbol. Lokasi bangunan yang dianggap “kurang pas” bisa memengaruhi antusiasme warga untuk datang, apalagi jika tempat tersebut nantinya dipakai untuk aktivitas ekonomi harian.
Di sisi lain, ada juga warga yang mencoba melihatnya lebih santai. Menurut mereka, yang terpenting adalah fungsi koperasinya berjalan baik, membantu masyarakat, dan tidak mangkrak seperti banyak proyek desa lainnya.
Karena pada akhirnya, masyarakat tidak terlalu peduli bangunannya menghadap ke mana…
asal jangan sampai programnya ikut “mati” sebelum berkembang.













