Tanyaislamyuk – Di kampung penulis, menjadi satu-satunya alumnus pesantren itu bukan sekadar status. Itu semacam jabatan tidak resmi yang datang tanpa pelantikan, tanpa gaji, tapi dengan ekspektasi yang luar biasa. Ini penulis rasakan sekitar beberapa tahun yang lalu, ketika ia lulus dari pesantren. Begitu orang tahu penulis pernah mesantren, ada perubahan cara pandang yang cukup signifikan. Ia dikira pandai agama, bisa memimpin, bisa menjawab pertanyaan hidup, bahkan, kalau perlu, bisa mengatasi hal-hal di luar nalar.
Pernah suatu ketika ada orang pingsan. Bukannya dipanggilkan orang medis atau dibawa ke tempat yang lebih masuk akal, penulis justru dipanggil. “Coba didoakan,” begitu kata mereka. Ada juga yang datang ke penulis dengan harapan yang lebih personal. “Mas, doakan usaha saya biar lancar,” kata seorang warga yang mau buka usaha. Lebih menarik lagi ketika ada yang datang dengan urusan jodoh. “Mas, saya minta amalan biar cepat dapat jodoh,” katanya.
Puncaknya mungkin ketika ada bayi yang terus menangis dan tidak kunjung tenang. Alih-alih mencari tahu penyebabnya, lapar, sakit, atau hal lain yang lebih logis, penulis kembali dipanggil. “Coba didoakan, Mas.” Di titik itu, penulis mulai benar-benar merasa bahwa status alumni pesantren ini sudah berkembang terlalu jauh. Dari yang awalnya soal ibadah, jadi semacam solusi umum untuk semua hal.
Masyarakat melihat lulusan pesantren sebagai orang yang dekat dengan agama, dan dari situ muncul harapan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan “yang tidak terlihat” bisa ditangani. Masalahnya, tidak semua hal masuk ke wilayah itu. Dan, tidak semua alumni pesantren punya kemampuan seperti yang dibayangkan.
.
.
sc: mojok.co













