Tanyaislamyuk – Ada satu kalimat yang sering membuat hati orang tua terasa perih.
“Terima kasih sudah temani aku dari nol.”
Kalimat itu diunggah sebagai caption foto wisuda atau pencapaian karier. Yang berdiri di sampingnya adalah pacarnya. Mereka tersenyum, saling menggenggam tangan, lalu banjir ucapan selamat dari ribuan orang.
Tidak ada yang salah dengan berterima kasih kepada pasangan.
Yang menyakitkan adalah ketika ucapan itu seolah menghapus orang-orang yang benar-benar memulai semuanya dari nol.
Nol Itu Dimulai Dari Rumah
Sebelum ada pacar yang menemani saat kuliah…
Ada ayah yang berangkat subuh, pulang malam dengan tubuh penuh keringat.
Ada ibu yang berkali-kali menahan keinginan membeli baju baru agar uang sekolah anak tetap terbayar.
Ada orang tua yang rela makan seadanya, bahkan berutang, demi memastikan anaknya tetap bisa duduk di bangku kuliah.
Mereka tidak pernah membuat unggahan tentang pengorbanannya.
Mereka hanya diam, bekerja, dan berharap suatu hari nanti anaknya hidup lebih baik daripada mereka.
Mereka Tidak Pernah Minta Dibalas
Kebanyakan orang tua tidak pernah meminta rumah mewah.
Tidak meminta mobil.
Bahkan tidak meminta uang bulanan.
Yang mereka inginkan sering kali sangat sederhana.
Mereka ingin anaknya berhasil.
Mereka ingin melihat senyum anaknya saat memakai toga.
Mereka ingin tahu bahwa semua lelah selama puluhan tahun ternyata tidak sia-sia.
Ketika Sejarah Seolah Berubah
Lalu tibalah hari kelulusan.
Foto-foto diambil.
Unggahan dibuat.
Caption panjang ditulis.
Namun yang disebut sebagai “teman dari nol” justru seseorang yang baru hadir beberapa tahun terakhir.
Sementara orang tua yang mengantar sejak langkah pertama, membayar uang sekolah, membeli buku, bahkan menjual harta demi biaya kuliah, tidak disebut sama sekali.
Bukan karena mereka iri.
Tetapi karena pengorbanan yang begitu panjang terasa seolah tidak pernah ada.
Jangan Salah Mengartikan “Dari Nol”
Kalau benar-benar ingin berbicara tentang “nol”, maka nol itu adalah ketika kita belum bisa berjalan.
Belum bisa membaca.
Belum mengerti kehidupan.
Nol itu ketika setiap kebutuhan kita dipenuhi oleh orang tua.
Pacar mungkin menemani perjalanan menuju sukses.
Tetapi orang tualah yang membangun jalan agar perjalanan itu bisa dimulai.
Jangan Sampai Terlambat
Masih banyak orang yang baru menyadari besarnya pengorbanan orang tua setelah mereka tiada.
Saat kursi di ruang tamu kosong.
Saat tidak ada lagi telepon yang menanyakan, “Sudah makan belum?”
Saat tidak ada lagi doa yang diam-diam dipanjatkan setiap malam.
Barulah mereka sadar bahwa orang yang benar-benar menemani dari nol bukanlah orang yang muncul belakangan, melainkan mereka yang sejak awal rela mengorbankan segalanya.
Penutup
Mengucapkan terima kasih kepada pasangan adalah hal yang baik.
Namun jangan sampai rasa syukur kepada pasangan membuat kita lupa kepada orang tua yang telah mengorbankan usia, tenaga, dan impiannya agar kita bisa berdiri di titik ini.
Karena sesungguhnya, orang yang paling pantas mendengar kalimat “Terima kasih sudah menemani aku dari nol” adalah ayah dan ibu.
Mereka mungkin tidak pernah meminta ucapan itu.
Tetapi mereka adalah alasan mengapa kita bisa memiliki kisah sukses yang hari ini kita banggakan.













