Tanyaislamyuk – Nama Rocky Gerung kembali memantik perdebatan panas. Kali ini, kritiknya terasa menampar keras—bukan hanya ke penguasa, tapi juga ke arah publik yang dinilainya kehilangan arah dalam menentukan apa yang layak diprotes.
Dalam sebuah pernyataan yang beredar luas di media sosial, Rocky menyoroti fenomena yang menurutnya “aneh tapi nyata”: sebuah warung yang menjual makanan berbahan babi, sudah mengantongi izin resmi, justru menjadi sasaran demonstrasi. Sementara itu, perilaku pejabat yang ia sindir dengan kalimat tajam “kelakuan kayak babi”—yang merujuk pada keserakahan dan penyalahgunaan kekuasaan—justru sepi dari protes.
“Ini ironi yang memalukan,” tegas Rocky. “Yang legal didemo, yang moralnya bobrok malah dilindungi diam-diam.”
Pernyataan ini langsung menyulut respons beragam. Sebagian menganggap Rocky sedang membuka mata publik tentang standar ganda dalam bernegara. Namun tak sedikit pula yang menilai ucapannya terlalu provokatif dan berpotensi memperkeruh suasana.
Fenomena yang disorot Rocky bukan tanpa konteks. Dalam beberapa waktu terakhir, memang muncul sejumlah aksi protes terhadap usaha kuliner tertentu yang dianggap tidak sesuai dengan nilai mayoritas masyarakat, meski secara hukum tidak melanggar aturan. Di sisi lain, berbagai isu korupsi dan penyalahgunaan jabatan kerap kali berlalu tanpa gelombang demonstrasi sebesar itu.
Pengamat sosial menyebut kondisi ini sebagai “pergeseran fokus kemarahan publik”—di mana emosi lebih mudah tersulut oleh simbol-simbol yang kasat mata, dibandingkan persoalan struktural yang dampaknya jauh lebih besar.
Rocky, dengan gaya khasnya yang tajam dan tanpa basa-basi, seperti sedang menantang publik untuk bercermin: apakah kita benar-benar peduli pada keadilan, atau hanya sibuk memilih sasaran yang paling mudah diserang?
Di tengah hiruk-pikuk opini dan pembelaan, satu hal yang pasti—pernyataan ini berhasil mengguncang. Dan mungkin, itu memang tujuannya.













