Tanyaislamyuk – Hari yang biasa di sebuah mal di Utah, Amerika Serikat (AS), berubah menjadi tindakan kekerasan yang mengerikan setelah seorang karyawan kios diserang hanya karena beragama Islam.
Karyawan tersebut, yang diidentifikasi sebagai Sohail, ditusuk 15 kali dengan pisau oleh Peter Michael Larsen (48) setelah korban menjawab pertanyaan “Apakah kamu Muslim?”.
Baca Juga: Islam Melarang Pembalseman, Bagaimana Iran Mengawatkan Jenazah Ayatollah Ali Khamenei sejak Februari?
Menurut dokumen pengadilan setempat, Larsen telah mengatakan kepada penyidik polisi bahwa dia sengaja menargetkan korban karena beragama Islam. “Dia berniat membunuh orang-orang Muslim,” bunyi dokumen pengadilan.
Insiden itu terjadi pada hari Senin di dalam Valley Fair Mall di West Valley City. Polisi mengatakan Larsen mendekati korban, memulai percakapan dan menanyakan tentang agamanya sebelum melancarkan serangan.
Pihak berwenang telah mendakwa Larsen dengan percobaan pembunuhan dan penggunaan senjata berbahaya yang dilarang. Dia ditahan di penjara Salt Lake County.Luna Nunez, saksi mata yang bekerja di toko perhiasan terdekat, mengatakan kepada ABC Salt Lake City bahwa Larsen pertama kali bertanya kepada Sohail dari mana dia berasal.
“Dia [Larsen] bertanya, ‘dari mana kamu berasal?’, dan Sohail menjawab, ‘Saya dari India, nama saya Sohail’,” kata Nunez.
“Larsen bertanya lagi, ‘Apakah kamu Muslim?’, dan Sohail menjawab ya, lalu Larsen mulai menusuknya,” paparnya.
Imam Utah Islamic Center, Shuaib Din, mengatakan kepada Salt Lake Tribune bahwa Larsen juga meminta sebotol air kepada Sohail. Saat Sohail berbalik untuk mengambilnya, tersangka diduga mengeluarkan pisau dan menyerangnya.
Kampanye GoFundMe yang dimulai oleh Nunez mengatakan Sohail ditusuk 15 kali. Dia telah menjalani beberapa operasi dan masih dalam kondisi kritis.Sebelum polisi tiba di lokasi kejadian, beberapa saksi mata menangkap Larsen dan menahannya, mencegah serangan berlanjut.
Para penyelidik mengatakan Larsen menimbulkan bahaya besar bagi masyarakat karena tindakan kekerasan ideologi dan peristiwa korban massal yang direncanakan sebelumnya.













