Tanyaislamyuk – Pemerintah Guinea Ekuatorial mengambil langkah drastis dengan mengajukan pengunduran diri massal seluruh anggota kabinet yang dibentuk pada 2024 setelah dinilai gagal mencapai target kinerja yang telah ditetapkan. Wakil Presiden Teodoro Nguema Obiang Mangue mengungkapkan bahwa realisasi program pemerintah hanya mendekati 10 persen dari sasaran yang diharapkan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban atas hasil kerja yang dinilai jauh dari komitmen awal.
Perdana Menteri Manuel Osa Nsue Nsua kemudian menyerahkan pengunduran diri seluruh kabinet kepada Presiden Teodoro Obiang Nguema Mbasogo, yang telah memimpin negara itu sejak 1979. Partai Demokratik Guinea Ekuatorial (PDGE) menyatakan presiden tidak puas terhadap kinerja kabinet yang dibentuk pada 2024 tersebut dan berencana segera menyusun pemerintahan baru guna mempercepat pelaksanaan program pembangunan nasional.
Kekecewaan pemerintah tidak hanya terkait rendahnya capaian program, tetapi juga menyangkut dugaan praktik korupsi, penyalahgunaan sumber daya negara, serta lambatnya diversifikasi ekonomi. Meski dikenal sebagai salah satu negara kaya minyak di Afrika, Guinea Ekuatorial masih menghadapi tingkat kemiskinan yang tinggi. Ketergantungan besar pada sektor minyak dan gas membuat perekonomian rentan, sementara sebagian besar masyarakat belum merasakan manfaat signifikan dari kekayaan alam yang dimiliki negara tersebut.













